Mau Jadi Gelas Atau Telaga?

Tidak ada komentar 124 views

Setiap orang pasti memiliki masalah, baik masalah besar maupun kecil. setiap orang juga memiliki kelapangan dan kesabaran, namun tingkatannya berbeda, apakah memiliki tingkatan kesabaran tinggi atau rendah, namun semua tergantung kepada individu masing masing, karena setiap orang memiliki pengendali sendiri sendiri.Berikut ini ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang seorang anak kecil yang akan menyelesaikan masalah sendiri atau hanya ingin berlarut larut dalam masalah. Pada suatu hari di hari aktif sekolah seorang anak duduk didalam kelas mendengarkan guru namun sepertinya pikiran dan perasaannya tidak di kelas, guru tersebut melihat seperti kesedihan dan kekhawatiran anak dari raut muka dan tingkahnya.

gelas-telaga

Setelah pelajaran selesai, guru segera memanggil anak keruangan kantor, disana guru tersebut bertanya “hai nak, kenapa engkau murung dan terlihat sangat sedih?” maka sang anak menjawab “ada sesuatu masalah yang sedang menimpa ku guru”, kemudian sang guru tidak memberi sebuah nasihat atau ucapan untuk menghibur, beliau mengambil segenggam garam dan satu gelas air putih, dihadapan anak tersebut guru berkata “ coba lihat nak, ini adalah satu genggam garam, ibaratkan sebagai masalah yang sedang kau hadapi, sedangkan satu gelas ini adalah hatimu, maka aku akan meletakkan satu genggam garam ini kedalam satu gelas air putih, silahkan kamu minum nak” guru meletakkan segenggam garam kedalam satu gelas air putih dan menyuruh anak tersebut meminumnya, setelah meminum maka sang guru bertanya “bagaimana rasanya nak?” sang anak  menjawab “sungguh luar biasa asin”. Selanjutnya anak tersebut diajak jalan jalan oleh sang guru, tibalah di sebuah telaga, guru mengambil satu genggam garam lagi, kemudian menaburkannya ke dalam air telaga tersebut, dan menyuruh anak tersebut meminum air telaga, guru berkata “bagaimana rasanya nak?” sang anak menjawab “ segar, tidak asin sama sekali”.

Setelah sang guru dan anak tiba disekolah, maka diruangan guru tersebut menerangkan bahwasanya manusia punya pilihan, mau bersikan seperti gelas atau seperti telaga, beliau berkata “hai anakku, jadilah hatimu ini seluas telaga, karena sebanyak apapun masalah atau garam ditaburkan kedalam hatimu, maka hatimu tetap tenang, jangan jadikan hatimu seluas gelas, diberi segenggam garam atau masalah langsung ciut dan berkecil hati, merasa sedih sepanjang waktu”, mendengar keterangan dari gurunya tersebut maka sang anak sadar, bahwa masalah bisa saja datang dalam wujud masalah besar maupun kecil, namun semua masalah tidak aka nada artinya jika kita memiliki hati seluas telaga, sebanyak apapun genggaman garam yang ditaburkan, hati akan tetap tenang, tidak ada kesedihan yang berlarut larut. Dengan adanya kisah diatas maka bisa disimpulkan bahwa menjadi orang sedih atau senang, yang bisa memilih hanyalah diri kita sendiri.